Ndleming adalah satu kata dalam bahasa Jawa yang menunjukkan suatu kondisi orang berbicara terus menerus, dengan kalimat yang jika didengarkan akan sulit dimengerti. Tak jarang dalam ndleming orang mengulang-ulang kata atau kalimat tertentu. Orang yang sedang ndleming umumnya dalam keadaan kewarasannya tersembunyi atau hilang sama sekali. Ada beberapa pemicu orang ndleming, pertama karena memang orang tersebut tidak waras, karena itu dia omong tak karu-karuan atau yang kedua orang ndle-ming dalam kondisi mabuk, setress, emosi tidak terkendali, dan lain sebagainya.
Akhir-akhir ini ditengah-tengah sulitnyanya ekonomi, kerusuhan bernuansa sara di mana-mana, juga budaya ngenyek-mengenyek (hina, menghina), jatuh-menjatuhkan, tuduh-menu-duh yang sudah biasa, ndleming menjadi pola yang membudaya. Ndleming sekarang ini tidak lagi menjadi konsumsi orang mabuk yang pola pikirnya ngaco, ngawur, sokor njeplak (asal). Ndleming juga bukan lagi hanya dinikmati oleh orang gila, sinting dan edan yang bahagia de-ngan dunianya. Tapi ndleming sekarang ini sudah naik tahta – bertambah nilai menjadi gaya hidup sebagian orang.
Ketidakpuasan dengan kinerja pemerintah, kesulitan hidup yang kian menindih juga konsumsi berita yang disajikan media melulu ten-tang pembunuhan, kerusuhan dan kekerasan menjadi semacam pemicu tersendiri orang untuk ndleming. Ndleming itu gaya komunikasi monolog dari diri, oleh diri dan untuk diri. Dleming-an bukan dimaksudkan bagi konsumsi umum, karenanya berorientasi pada diri dan kepuasan hati. Dengan ndleming orang bisa mengritik sana-sini atau ngoceh ngalor-ngidul. Dengan ndleming orang mencurahkan seluruh isi hati, omong apa saja seingin, semau dan sekehendak hati. Orang ingin dengar silahkan, tidak juga ndak apa-apa – toh ndleming bukan-lah komunikasi dua arah (dialog) yang membu-tuhkan tanggapan atas pernyataan orang. Kalaupun orang ingin menyimak pun belum tentu mengerti isi, apalagi maksud dari dleming-annya.
Bahan dleming-an juga bebas, terserah saja. Apa yang di suka ya silahkan di-dleming-kan. Mulai dari kinerja pemerintah; kasus Ahma-diyah; arogansi FPI; pemuja Yahweh yang me-micu kerusuhan temanggung, sampai ke persoalan keuangan gereja, atau budaya organisasi di Indonesia akhir-akhir ini yang gemar sikut kanan – sikut kiri. Gaya hidup menjilat, asal babe senang, apapun dilakukan, meskipun mengerdilkan atau pun menafikan kinerja rekan pun bisa jadi bahan dleming-an kok. Pokoknya silahkan, terserah, apa saja asal bisa ndleming.
Betul, secara negatif ndleming memang bentuk ketidakmampuan orang menyalurkan aspirasi dengan beretorika, bersuara atau adu argumen. Ndleming umumnya memang kon-sumsi orang yang tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali ndleming – bukan karena tidak mau, tapi memang tidak mampu dan dikon-disikan tidak bisa oleh sistem yang menjerat-nya. Tapi jangan lupa ada hal positif dari ndleming yang hendaknya tidak dinafikan. Selain orang bisa mencurahkan seluruh uneg-uneg diri, ndleming juga sarana orang meng-amati jamannya, kondisi sekitar, lingkungan, masyarakat dan gerejanya. Dengan ndleming orang sedang berdialog dengan diri dan “orang mati” tentang berbagai hal. Orang bisa menertawakan hidup, dan dirinya sendiri saat ndleming. Ndleming adalah salah satu sarana orang untuk memahami hidup dan niscaya menjadi jembatan menuju bijak. Karena itu monggo (silahkan) saja kalau njenengan (anda) mau ndleming. Selamat men-ndle-ming se-ndleming-ndlemingnya, sampai maut memaksa anda tidak ndleming lagi. Tapi dleming-an tidak akan berhenti men-dleming dan di dleming-dleming-kan.
Slawi/ndleming-dw