Salibkan dia…. Salibkan dia…salibkan dia….” Dengan ekspresi kekesalan dan kebencian yang teramat dalam, cacian, olokan, dan makian tak henti-hentinya meng-hujani aksi demo hari itu. Dengan tuduhan penistaan terhadap agama, massa yang sudah muak dan kelelahan akibat sudah sekian lama menunggu itu pun menuntut agar anak tu-kang kayu itu – selaku tersangka – diberi gan-jaran hukuman yang seberat-beratnya. “Salib” adalah satu kata yang tepat untuk kesalahan yang telah dibuat-Nya.Tak sepatah kata peno-lakan pun keluar dari mulut pemuda “putra sulung” pasangan Maria dan Yusuf itu. Meski-pun Yesus, begitulah ia biasa dipanggil, mampu menolak dan melawannya, namun hal itu tak dilakukannya. Bahkan dengan rasa nrimo dan legowo hukuman itu Yesus terima. Cambuk bergigi tajam yang merobek kulit Yesus tampak menimbulkan luka merah menganga diikuti da-rah segar mengucur dari tubuh-Nya, itu pun tak lantas membuat Ia mendemonstrasikan kekuatan yang dimiliki-Nya demi menghacurkan satu demi satu orang yang telah memfitnah diri-Nya.